Kemarin aku berencana membuat perangkat untuk mendekam, diantara gunjingan yang mulai tidak asyik di telinga. Lalu aku mulai tak ingin berputar, diantara geram. Sayup candumu memuakkan, dunia yang tak akrab di telinga muslihat. Aku membual, kamu membual, jadi sama-sama membual. Luangkan sejenak dengan genggaman yang meraup sejuta renyah. Aku kembali duduk di bawah pohon tak bernama di dekat rumah. Rasanya seperti melihat masa-masa berjalan lambat. Keengganan yang membuat tubuhku tak ingin singgah, kemanapun. Hanya pohon itu yang mampu menarikkan beberapa resap di dada. Aku mati, katanya.
Didalam keengganan yang bersahaja, aku tak tahu harus memanggilmu tidak, separuh ruangku meluap , wajah itu menjadi-jadi .Aku dibawah pohon tak bernama mulai menghitung satu per satu kematian yang hinggap dalam remah coklat di dekat rumah. Dan pemakaman yang telah memanggil beberasa resap dadaku memberat. Apakah itu yang disebut keakuan menyerang, atau hanya lalu lalang saja. Perempuan lingkaran mata hitam tebal menjabat tangan lipatan-lipatan. Aku perempuan itu. Aku entah, bereteriakpun entah. Pikiranku komedi putar, duniaku berputar. Aku Perempuan itu, Aku pali , aku datang lagi di pohon tak bernama.
Siang menggenang, laptop mati. notebok kubuka dnegan pensil lelap hitam membongkar jala-jala. Ketukan pertama mulai mengetuk untuk berkali kali ketuk.Seperti meluapkan dendang, di hati perempuan. Aku mengendap, menuliskan tentang burung-burung hinggap di bawah pohon tak bernama, Aku terlihat sendiri. Tetapi aku tidak sendiri. Pikiranku ramai. Aku ramai. Dan entah hanyalah nama yang bisa aku ciptakan kapan saja.Aku menggenggam rahasia bertahun-tahun lamanya, tentang aliran darah yang mengalir dari saluran pembuangan air rumah, rusak membusuk menjadi bau yang hinggap di kepala selama berkali-kali. ketukan mulai membanjir tubuhku.
Masakan berupa rupa disiapkan di dapur rupa , aku mulai membantu ibu menyisihkan bumbu-bumbu untuk masakan doa pemakaman wajah senja yang aku genggam bertahun-tahun lamanya, dalam pikiranku. Aku mulai bersalaman dengan daun daun kering, salam hangat hinggap di wajah wajah senja. Kakek merebak, nenek meluap hinggap cepat berkelebat dalam pikirku.
Jika bom-bom masih saja terdengar di resapan dada dunia, aku menghardikmu lelah. Tak berdaya , mungkin itu juga hanya bisa diciptakan dalam sekejap.Aku membutuhkan lelah, aku membutuhkan cegah. Semua merapat hebat di jalan-jalan yang entah, aku bisa melaluinya dengan beribu-ribu wajah yang menguntitku dari arah mana saja . wajah-wajah menyimpan rahasia.
Pada suatu malam, aku dibawan pohon tak bernama, aku megucap mantra. Keajaiban apa yang akan datang? aku mengulang. lalu seribu kalajengking mendatangi tubuhku .Rasanya ramai, gigitan membongkar sejarah genggaman yang aku simpan, wajah-wajah senja datang dalam lingkaran kecil-kecil datang, meluap tubuhku membiru. Darahku perlahan keluar dengan lamban, aku mencium tubuhku sendiri. Genangan darah masuk ke saluran saluran air pembuangan rumah, di bawah pohon tak bernama.
Solo, 17 januari 2010







Recent Comments